“Wahai Rasulullah, di manakah bapakku?” Beliau menjawab, “Dia di dalam neraka.” Ketika laki-laki tersebut berlalu pergi, maka beliau memanggilnya seraya berkata: “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di dalam neraka.”
(HR. Muslim: 302)
“Wahai Rasulullah, di manakah bapakku?” Beliau menjawab, “Dia di dalam neraka.” Ketika laki-laki tersebut berlalu pergi, maka beliau memanggilnya seraya berkata: “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di dalam neraka.”
(HR. Muslim: 302)
Seorang ustadz bertanya kepada jama’ahnya.
……………
Ustadz : “Kalau kita hidup zaman Firaun kira-kira kita jadi pengikut Firaun, atau pengikut Nabi Musa?”
Jama’ah : “Tentulah Nabi Musa.” Ustadz : “Yakin?” Jama’ah : “Yakinnnnn”
Ustadz : “Tapi yang membangun Mesir, Firaun. Yang bangun piramid, Firaun. Yang terKAYA, Firaun. Yang punya tentera, dan banyak pengikut, Firaun. Yang bisa memberi PERLINDUNGAN dan jaminan, Firaun. Yang Berkuasa, Firaun.
Yang bisa sediakan MAKANAN & MINUMAN, Firaun. Yang bisa adakan HIBURAN, Firaun. Yang bisa buat pusat perbelanjaan, Firaun. Sementara Musa, hanya penggembala kambing saja. Bicara pun tdk fasih. Senjata pun hanya sebatang tongkat. Masih yakin?”
Jama’ah : (mulai terdiam…)
Ustadz : “Dan kerjaan Musa hanya penjaga kambing, tiba-tiba ajak kita untuk melewati lautan tanpa memakai sampan atau kapal. Apakah yakin kita mau ikut Musa ?” …… Betapa manusia zaman Firaun dan zaman KITA SEKARANG, TIDAK BERBEDA
Di Zaman ini masih banyak yang PERCAYA pada harta, pangkat, jabatan dan pengaruh.
KEBENARAN Itu bisa jadi akan kita abaikan bila sudah menyentuh orang yang berpengaruh, orang berkuasa dan orang yang kita idolakan.
Sungguh…FIR’AUN itu tetap ADA hingga akhir zaman.. HANYA berUBAH WAJAH dan BENTUKnya… Maka Yaa Rabb…
Istiqomahkanlah kami agar senantiasa berada di jalan kebenaran, di jalan-Mu yang lurus, jalan yang Kau ridhoi. Hindarkanlah kami dari tipu daya muslihat dunia dan godaan musuh-musuh-Mu serta kejahiliyahan karena kebodohan kami
Berikanlah kami ILMU dan IMAN agar mengetahui bahwa yang haq adalah haq, dan yang bathil adalah bathil. Dan tampakkanlah kepadaku yang benar itu sebuah kebenaran, dan berikan petunjuk kepadaku untuk mengikutinya. Dan tampakkanlah kepadaku yang mungkar itu sebuah kemungkaran dan berikan petunjuk kepadaku agar menjauhinya.
“ALLAHUMMA WA BIHAMDIHI WA TABAARAKAS MUKA WA TA’ALA JADDUKA WA LAA ILAAHA ILLA GHAIRUKA (Maha Suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha Berkah akan nama-Mu, Maha Tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau).”
(HR. Ahmad: 11230)
“Wahai pamanku, katakanlah laa ilaaha illallah. Suatu kalimat yang akan aku pergunakan untuk menyelamatkan engkau di sisi Allah”. Maka berkata Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah; “Wahai Abu Thalib, apakah kamu akan meninggalkan agama ‘Abdul Muthallib?”. Keduanya terus saja mengajak Abu Thalib berbicara hingga kalimat terakhir yang diucapkannya kepada mereka adalah dia tetap mengikuti agama ‘Abdul Muthallib. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku akan tetap memintakan ampun untukmu selama aku tidak dilarang”. Maka turunlah firman Allah Ta’ala dalam QS AT-Taubah ayat 113 yang artinya: (“Tidak patut bagi Nabi dan orang-orang beriman untuk memohonkan ampun bagi orang-orangmusyrik sekalipun mereka itu adalah kerabat-kerabat mereka setelah jelas bagi mereka (kaum mu’minin) bahwa mereka adalah penghuni neraka jahim..”). Dan turun pula firman Allah Ta’ala dalam QS al Qashsash ayat 56 yang artinya: (“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai…”)
(HR. Bukhari: 3595)
Inilah komentar Ahlul Bid’ah
.
Ngaji dulu sana, pelajari dulu kitab kuning (Padahal ustadz yang mengatakan bid’ah lebih pintar dari dia, ustadz nya lulusan madinah, belajar dengan ulama yang jelas ilmunya).
.
Ngaji itu sama kyai, sama habib, jelas ilmunya, bersanad (Katanya doang bersanad tapi amalannya gak ada hadistnya, gak ada contoh dari Rasulullah, terus amalannya bersanad dari mana?)
.
Yaelaahhh dasar wahabi cuman modal copas, nyarinya di google terus sambil foto kitabnya (Lebih baik modal copas tapi shahih daripada belajar kitab tapi amalannya gak sejalan dengan Rasulullah).
.
Dasar wahabi tukang melintir hadist, tukang fitnah (Sejak kapan melintir hadist? Jelas kok kami tampilkan takhrij hadistnya, silahkan buka dikitab hadist” shahih)
.
Belajar dulu sana, ngaji dulu sana, supaya tidak kelihatan bodoh, dasar goblok wahabi (Katanya doang orang berilmu tapi akhlaknya Subhanallah jauh dari kata orang berilmu).
.
Oh wahabi tri tauhid, menyamakan Allah dengan mahkluknya (Pas kami posting bantahannya yang sangat panjang, ilmiah, ada dalil, perkataan para sahabat dan imam madhzab eh malah hilang dari kolom komentar sembunyi pura” gak mau baca)
.
Wahabi tukang fitnah, ngurusin aib orang lain, ngurusin amalan orang lain, sok suci, wahabi yang punya surga, ghibah dan semacamnya (Bentuk dari penyakit hati, tertutupnya hati menerima kebenaran, padahal yang kita lakukan adalah mengingatkan akan bahaya bid’ah dan tahdzir kepada yang menampakkan kesesatan)
.
Ah wahabi suka mengkafirkan orang (Dari mananya suka mengkafirkan? Ini adalah tuduhan palsu, justru kami sangat anti dalam pengkafiran, bahkan yang menyembah kuburan tak lantas kami vonis kafir, tapi harus sesuai dengan kaidah” islam).
.
Itulah sedikit komentar dari orang” yang mengaku Ahlus Sunnah tapi doyannya ngebubarin kajian, doyannya jaga gereja, doyannya bersentuhan dengan yang bukan mahram, doyannya ngalap berkah, doyannya dzikir sambil joged, doyannya makan”, anti berjenggot, anti dengan sunnah” Rasulullah.
.
Cukup kita yang menilai siapa sebenarnya yang Ahlus Sunnah.
“Barangsiapa tidak mencukur kumisnya, maka dia bukan termasuk golonganku.” Dan dalam bab ini, ada juga hadits dari Al Mughirah bin Syu’bah. Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Yusuf bin Shuhaib dengan sanad yang semakna hadits ini.
(HR. Tirmidzi: 2685)
“Kami diberi batas waktu untuk mencukur kumis, memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, tidak dibiarkan lebih dari empatpuluh hari.” Abu Isa berkata; Hadits ini lebih shahih dari hadits pertama. Shadaqah bin Musa menurut mereka bukan seorang yang hafidz.
(HR. Tirmidzi: 2683)
beliau memberi batas waktu setiap empatpuluh malam untuk memotong kuku, mencukur kumis dan mencukur rambut kemaluan.”
(HR. Tirmidzi: 2682)
“Sepuluh hal yang termasuk (sunnah) fitrah, yaitu; mencukur kumis, memanjangkan jenggot, bersiwak, Istinsyaq (menghirup air lewat hidung), memotong kuku, membasuh ruas jari, mencabut bulu ketiak, mencukur rambut kemaluan, beristinja` -Mush’ab mengatakan; Saya lupa yang kesepuluh- mungkin berkumur.” Abu Isa berkata; “Intiqash al-maa` artinya beristinja` dengan air.” Dalam hal ini ada hadits serupa dari Ammar bin Yasir, Ibnu Umar dan Abu Hurairah. Abu Isa berkata; Hadits ini hasan.
(HR. Tirmidzi: 2681)
“Sesungguhnya di dalam surga itu ada sebuah kamar yang bagian luarnya dapat terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar.” Lalu Abu Musa Al Asy’ari bertanya: “Wahai Rasulullah, ia diperuntukkan untuk siapa?” Beliau menjawab: “Untuk orang yang lemah lembut tutur katanya, yang memberikan makanan, dan yang melaksanakan qiyamullail (shalat malam) saat manusia tertidur lelap.”
(HR. Ahmad: 6326)